Nikah

Umumnya orang-orang berpendapat menikah haruslah saling mencintai, banyak pula yang merasa menikah itu sebagai sahnya atau resminya berhubungan badan, padahal didalam islam berpacaran saja sudah tidak diidzinkan, berdua-duaan laki-laki dengan perempuan yang ketiganya adalah syaitan.


Banyak pasangan menikah yang setelah menjalani lebih dari tiga tahun masa pernikahan mereka diterpa badai kejenuhan yang sangat sulit sekali dicari jalan keluarnya, sehingga biasanya pernikahannya benjadi dingin dan penuh dengan keributan, sehingga dari rumahku adalah surgaku, berubah menjadi rumahku nerakaku.

 

Padahal waktu baru kenalan juga pada saat pacaran, bisa bertemu saja sudah senang dan bahagia luar biasa, mengapa setelah menikan tiga tahun menjadi jenuh, penuh keributan serta kurang saling menghargai?, biasanya semua itu terjadi dikarenakan sewaktu menikah pasangan tersebut menganggap pernikahan adalah sahnya atau halalnya berhubungan badan, yang sebenarnya hanya bagian kecil saja dari pernikahan, sehingga setelah hubungan badan yang sebenarnya hanya kebutuhan birahiah juga hiburan kecil dalam sulitnya pernikahan, sudah menjadi rutinitas, tentu saja sebagaimana rutinitas-rutinitas yang lain yang dalam waktu tertentu akan mendatangkan kejenuhan.

 

Kata cinta yang di agung-agungkan banyak orang, sebenarnya adalah suatu keinginan memiliki orang yang dicintainya, juga cinta itu bersahabat erat dengan cemburu, menguasai serta tuntutan yang bila tumbuh tanpa terkendali, tentu saja akan sangat membebani atau memberatkan bagi orang yang dicintainya itu, akan menjadi belenggu yang sangat kuat sehingga dapat menghambat, bahkan menghentikan kemajuan orang yang dicintainya tersebut, sebenarnya Allah memberikan rasa cinta kepada manusia sebagai tombak birahiah yang menjadi naluri kebutuhan berketurunan agar tidak menjadi musnah, atau untuk lebih jelasnya Allah memberikan naluri kepada manusia agar berusaha mencari jodohnya yang telah disediakan oleh Allah.

 

Bila manusia telah menemukan jodoh yang telah di tentukan atau disediakan oleh Allah, maka seharusnya cintanya segera beralih secara berangsur-angsur menjadi sayang dan kasih kepada pasangannya, sehingga dapat menjalani perjodohannya yang telah diberikan oleh Allah tersebut sesuai dengan cara yang diridhoi oleh Allah, sehingga dapat menumbuhkan kebahagiaan rumah tangga yang disertai kesenangan-kesenangan kecil sebagai hiburan.

 

Seringkali orang sulit membedakan yang mana cinta, kasih dan sayang yang bila dirasakan secara sepintas saja mungkin akan terasa sama dikarenakan tercampur baur, cinta sudah dibahas terlebih dahulu di bagian atas, sedangkan kasih berasal dari kasihan yang menghasilkan melindungi serta mengayomi, sedangkan sayang adalah ingin membuat atau melihat yang disayangi bahagia dan senang, jadi kasih dan sayang bersifat memberi, sedangkan cinta bersifat membutuhkan atau meminta atau juga menuntut, padahal baik hubungan silaturahmi secara umum serta hubungan pernikahan seharusnya saling memberi saling menerima, bukannya saling menuntut dan saling meminta.

 

Yang sering juga menjadi pendapat umum, seorang suami wajib memberikan nafkah lahir serta nafkah bathin kepada istrinya, nafkah bathin disini selalu diartikan sebagai menggauli istrinya, padahal pada saat menggauli istrinya seringkali suami tersebut bukan sedang memberi nafkah bathin, melainkan sedang memenuhi kebutuhan hajat birahinya sendiri saja, jadi sebenarnya bukan memberi tetapi malah meminta.

 

Ada lagi yang sering dilupakan oleh para pasangan pernikahan jaman sekarang, biasanya para istri merasa rendah diri bila hanya menjadi ibu rumah tangga saja, padahal mulianya seorang wanita terletak pada keberhasilannya menjadikan anak-anak suaminya menjadi anak yang soleh-solehah dan berbakti, sedangkan seorang anak lebih cepat menerima pelajaran dengan melihat daripada dengan mendengar, yang tentu saja contoh yang paling dekat adalah ibunya sendiri, bagaimana bakti sang ibu kepada suaminya sangat menentukan bagaimana sianak akan menjadi anak yang berbakti ataupun menjadi anak yang membangkang pada orang tua, begitu juga dengan tingkat solehah sang ibu sangat menentukan bagi anak-anaknya.

 

Masalah yang tidak kurang pentingnya untuk diwaspadai adalah prasangka seorang istri kepada suaminya, apalagi di jaman seperti sekarang ini yang begitu banyak berita meresahkan dari media tv maupun media cetak yang sudah sangat tidak terkontrol dampaknya bagi masyarakat, menambah prasangka yang sangat mengganggu serta menyita begitu banyak fikiran dan lamunan sang istri hingga kesibukan fikirannya menghabiskan waktu untuk memperhatikan anak-anaknya, bahkan menjadi mudah marah-marah kepada anak-anak dan suaminya, padahal jodoh itu hak Allah sehingga sebenarnya percuma di takutkan, karena apapun kehendak Allah, kita tidak akan bisa menghindarinya, umur perjodohan sudah ditentukan panjang pendeknya oleh Allah, yang dapat kita lakukan hanyalah bagaimana cara mengisi waktu yang telah diberikan tersebut, apakah akan diisi resah dan gelisah karena prasangka, ataukah akan diisi  kebahagiaan dengan saling memberi saling menerima, saling menghargai, saling mengingatkan kepada kebenaran, saling menyenangkan, saling menjaga, saling hibur, dan lain sebagainya  sehingga menjadi keluarga yang sakinah tempat tumbuh anak-anak yang nyaman dan aman.

 

-=*=-