Banjir
Banjir besar di Jakarta yang bersiklus lima tahunan menimbulkan kerugian moril serta materiil yang sangat besar bagi warga kota, menurut pejabat terkait yang telah menjabat selama beberapa kali siklus banjir, ini adalah fenomena alam yang terdengar sangat wajar sekali, sewajar belepotannya wajah ibukota kita setiap lima tahun sekali. |
Fenomena alam bersiklus yang sangat umum adalah musim, di indonesia hanya ada dua musim saja, sedangkan di negara-negara lain ada yang empat musim yang salah satu musimnya adalah musim salju yang suhunya dapat belasan bahkan puluhan derajat dibawah nol, kalau saja kita terkena suhu udara sedemikian rendahnya, tanpa persiapan tentu saja akan binasa, sedangkan musim dingin tersebut sudah pasti akan datang setiap tahunnya, di negara dua musim seperti negara kita ini, memakai celana pendek sepanjang tahun pun kita tidak apa-apa, sungguh negara ini seperti surga saja, namun suasana surga tersebut sangatlah riskan sebab dapat menjadikan kita terlena serta lalai, sehingga mudah terseret dalam kemalasan. |
Bila kita berkendaraan di area yang rawan banjir maka kita akan berhati-hati juga berdebar-debar melihat jalan didepan kita menjadi macet dan ramai orang, tentu ada banjir didepan sehingga orang-orang yang berkendaraan berfikir keras apakah akan sanggup melewati banjir ataukah harus putar-balik arah, semakin dekat ke area berair semakin terlihat kesibukan orang-orang dan banyak yang putar balik, tetapi banyak juga bisa terus lewat, kalau kendaraan kita cukup tinggi maka kita pun akan mengambil keputusan untuk terus melewati banjir, makin dekat area makin padatlah kendaraan dan orang-orang, sehingga ketika kita mulai memasuki awal jalan berair, maka mulailah kita akan terheran-heran, betapa tidak kemacetan serta kesibukan kendaraan serta orang-orang ini ternyata tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya, melainkan ada yang sibuk menonton, mencuci kendaraan, berenang, bermain air, banyak permintaan sumbangan di tengah ketegangan melewati banjir, permintaan jasa jaga area, bahkan permintaan tanpa jasa apapun, sungguh ini merupakan fenomena tersendiri, yaitu fenomena mental atau akhlak bangsa kita yang sulit dimengerti, seakan-akan banjir ini menjadi pasar malam, menjadi tempat hiburan juga kesempatan untuk mencari untung dari yang sedang kesulitan. |
Fenomena mental bangsa ini memang luarbiasa, sudah merata pada hampir seluruh lapisan, seharusnya kita prihatin mengingat banjir tsunami pernah memporak-porandakan banda aceh beberapa waktu yang lalu, walaupun banjir jakarta ini sudah biasa dan bertambah parah setiap siklusnya juga memporak-porandakan wajah bangsa kita, namun tidak terlihat adanya pencegahan, bahkan persiapan menghadapinya, masalah yang dianggap kecil ini sebenarnya berakibat sangat besar, mengambil keuntungan sendiri tanpa perduli kepada orang lain seperti berenang, mencuci, meminta paksa jasa di jalanan banjir, dapat menjadikan orang tumpul hatinya, sehingga terjadilah kejadian-kejadian sumbangan bencana alam hanya sampai sepersepuluh, tidak ada yang mau mengangkut sumbangan makanan ke tempat bencana sehingga busuk dan rusak sungguh mubazir, dan lain-lain masalah mental yang terjadi dikarenakan memang malas serta tidak perduli kepada agamanya sendiri. |
Kerugian baik moril maupun materiil yang diakibatkan banjir yang dianggap biasa ini sungguh besar sekali, kiranya kerugian materiil tersebut dipergunakan untuk mencegah tentu akan jauh lebih baik, setidaknya dapat menghilangkan kerugian morilnya, sungguh mengherankan pula jakarta ini yang ingin mempunyai kereta monorail yang biaya pembangunannya sangat besar, yang dirasa aman dari banjir yang dibiarkan karena jalannya tinggi di atas tiang, bukannya akan lebih baik bila banjirnya saja yang dihilangkan, sebab kalau banjirnya bertambah tinggi terus memang keretanya bisa tetap jalan tapi orang yang mau naiknya yang ngga bisa sampai ketempat kereta. |
Rasanya kita semua perlu lebih banyak merenungkan serta memikirkan dampak dari fenomena mental bangsa ini, agar tidak terus menerus bertambah mengherankan kita. |
-=*=- |