Bahagia

Mungkin memang sulit untuk membedakan antara senang dengan bahagia, sehingga begitu banyak orang yang mengira bahwa hidupnya bahagia dikarenakan dia sedang dalam keadaan senang, sedang pada saat susah mereka merasa sangat tidak bahagia hidupnya.


Jika kita memandang kebahagiaan dari sudut kesenangan tentu saja akan sulit bagi kita untuk dapat hidup bahagia, karena kehidupan itu panjang sedangkan kesenangan silih berganti dengan kesusahan dan kedukaan dengan sangat cepat.

 

Mempersamakan kebahagiaan dengan kesenangan sangatlah tidak tepat, sebagaimana kita melihat orang yang meneteskan airmata, sulit membedakan airmata duka ataukah airmata kelegaan yang kita lihat tersebut, terkecuali kalau kita mengetahui penyebabnya, kesenangan dapat dibeli sedangkan kebahagiaan haruslah diperjuangkan, lawan dari senang adalah susah, sedangkan lawan dari bahagia bukanlah susah, dasar dari kesenangan adalah kepuasan dan hasrat, sedangkan dasar dari kebahagiaan adalah aman, tenang serta tentram, jika kita berpuasa tentu saja kita tidak merasa senang, tetapi kita merasa bahagia karena sedang menabung keamanan serta ketenangan bekal akhirat, juga tentram karena berkurangnya dosa-dosa yang juga menjadi tambahan jaminan akhirat.

 

Dikarenakan untuk mendapatkan kebahagiaan kita diharuskan memiliki keamanan, ketenangan serta ketentraman, maka haruslah diketahui terlebih dahulu arti sebenarnya dari masing-masing komponen tersebut, aman adalah terbebas dari segala macam ancaman, tenang adalah terbebas dari segala macam gangguan fisik sedangkan tenteram adalah terbebas dari segala macam gangguan fikiran, semua komponen tersebut berkait-kaitan satu sama lain, sehingga untuk mencapai salah satunya berarti kita harus pula mendapatkan yang lainnya.

 

Ancaman serta gangguan baik fisik maupun fikiran dapat terjadi baik oleh dunia maupun gambaran akhirat, untuk urusan dunianya tentu saja kita harus menjalin silaturahmi yang baik dengan sesama, sedangkan untuk akhiratnya kita haruslah menjalani kehidupan ini dengan pola hidup yang islami, dengan demikian maka akan terjaminlah keselamatan, ketenangan serta ketentraman dunia serta akhirat kita.

 

Dengan berusaha untuk mendapatkan aman, tenang dan tentram tersebut maka akan menjadi besarlah kesempatan kita untuk meraih kebahagiaan dalam kehidupan kita baik didunia maupun kehidupan akhirat kita, yang kebahagiaan tersebut tidaklah ada kaitannya dengan senang maupun susah yang senantiasa silih berganti mengisi kehidupan dunia kita ini.

 

Kesenangan kita didunia ini tidaklah menjadikan cerminan kita kepada akhirat, sedangkan kebahagiaan kita didunia dapat diumpamakan sebagai uang muka kita di akhirat nanti, atau sebagai gambaran kecil kehidupan akhirat kita.

 

Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang bahagia, bukanlah keluarga yang senang riang, banyak pasangan keluarga muda islam yang mengira bahwa keluarga sakinah bisa didapatkan dengan mudahnya, tanpa mengira bahwa untuk mewujudkan keluarga sakinah sangatlah sulit sekali, inti kebersamaan dalam pernikahan adalah saling memberi serta saling menerima, untuk tidak saling menuntut dan meminta saja sudah sangat sulit, apalagi saling memberi, sebab hukum memberi adalah harus mempunyai yang akan diberikannya, mana mungkin memberikan sesuatu yang kita tidak punyai, oleh karena itu tentu saja masing-masing harus mempunyai komponen kebahagiaan tersebut untuk diberikan, paling tidak sebagian sehingga dapat saling melengkapi komponennya, keluarga sakinah akan dapat melewati keadaan sulit, senang, kurang harta serta banyak harta dengan selamat sehingga habisnya waktu yang diberikan oleh Allah, keluarga sakinah adalah gambaran kecil keluarga surgawi.

 
Oleh karena itu raihlah kebahagiaan hidup dengan sungguh-sungguh serta pola hidup islami, agar mendapatkan kebahagiaan kehidupan akhirati yang kekal.
 

-=*=-