Anak Siapa

Semua anak terlahir islam, hanya kedua orangtuanya lah yang menjadikan mereka menjadi tetap islam ataupun bukan,  apa serta siapa sebenarnya anak yang seringkali disebut sebagai titipan Allah itu?.


Memang semua anak terlahir atas rencana Allah, semuanya sama ciptaan Allah yang Maha Menciptakan yang berarti milik Allah, pada dasarnya semua orang yang merasa milik Allah adalah orang islam, namun bila selanjutnya setelah tumbuh akal fikirannya ia merasa bukan lagi milik Allah maka baik secara sadar maupun tidak ia keluar dari keislamannya.

 

Manusia telah diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna agar dapat belajar dari kehidupannya dengan bimbingan Allah melalui Rasul-rasulNya, dari mulai diarahkan langsung oleh nabi-nabi kaumnya, hingga pada masa nabi Musa AS, Allah mulai mendewasakan manusia dengan memberikan sepuluh firman Allah sebagai pegangan dalam menjalani kehidupannya, sesuai dengan perkembangan kemampuan nalar manusia itu sendiri Allah terus menambahkan firman-firman Nya yang diberikan melalui nabi-nabi kaum manusia tersebut, sehingga akhirnya Allah mencukupkan jumlah firmannya yang dapat menjadi pegangan bagi seluruh ummat manusia, yang tidak ada satupun persoalan manusia yang tidak ada perumpamaannya didalam Al Qur'an yang diturunkan melalui utusanNya yang terpercaya, Rasulullah SAW sebagai nabi Allah yang terakhir, maka dengan turunnya al qur'an serta petunjuk pelaksanaannya berupa hadist, Allah telah berkenan untuk mendewasakan ummat manusia sepenuhnya.

 

Dikarenakan islam adalah agama yang mendewasakan ummatnya maka Allah menitipkan pembelajaran awal setiap manusia kepada yang diberi kepercayaan untuk melahirkannya, sering kita mendengar kata babat, bibit dan bobot tentang anak manusia yang di asumsikan sebagai anak siapa, padahal semua anak adalah sama, yang baru akan mulai belajar akalnya setelah mereka lahir, sebenarnya bibit bobot tersebut adalah bobot pembelajaran awal dari siapapun yang menjadi lingkungan awal kelahirannya hingga aqilbalik, walaupun mungkin ada juga sedikit pengaruh mentalitas siibu hamil, pada saat mengandungnya.

 

Islam adalah rahmat bagi semesta alam, yang semua ummat manusia sebenarnya diberikan amanah yang harus dilaksanakannya, yaitu beribadah kepada Allah sebagai Tuhan dan Penciptanya, oleh karenanya tentu saja anak-anak seharusnya semenjak awal mendapat pengenalan kepada Allah tempat mereka akan kembali nanti, dan itu adalah tugas semua hamba Allah, namun dikarenakan keegoisan serta perasaan emosional ataupun naluri manusia itu sendirilah sehingga akhirnya merasa bahwa titipan tersebut menjadi milik mereka.

 

Rasa memiliki inilah yang membuat apa yang dimiliki diharuskan sesuai keinginan pemiliknya, jika pemiliknya tidak tahu, atau tidak mau tahu, atau tidak peduli kepada Allah Tuhannya, bahkan tidak mau menerima kebenaran ilmu Allah dikarenakan tuntutan naluri syahwatnya, tentu saja miliknya tersebut akan turut menjadi korban ketidak pedulian ataupun syahwatnya sipemilik.

 

Allah menghukum keras kepada yang menyarukan keturunan, sebab kaitan garis darah keturunan akan menjadi garis pertanggung jawaban manusia dalam melaksanakan amanah yang diberikan oleh Allah, sarunya garis keturunan ini akan menyulitkan sianak dimasa depannya untuk mencari kebenaran jalan hidupnya, hal ini akan memusnahkan kemuliaan wanita sang ibu, juga dapat menghancurkan seluruh amal sang ayah, bila memang sang ayah turut serta dalam terjadinya kesaruan tersebut.

 

Anak yatim yang kehilangan kesempatan pembelajaran awal, mendapat perhatian khusus dari Allah yang mengharuskan siapapun perduli kepada mereka, ini menunjukan bahwa semua anak memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pembelajaran awal mereka.

 

Seharusnya setiap anak yang cukup mendapatkan pembelajaran awal dalam masa anak-anaknya akan lebih mudah menemukan kebenaran tujuan akhir kehidupannya setelah mereka dewasa nanti.

 

Rasa memiliki yang melebihi rasa tanggungjawab kepada Allah dari naluri seorang ibu akan cenderung menjadi memanjakan kepada anak-anaknya yang dapat menjadikan jiwa mereka manja serta rusak, sedangkan rasa memiliki berlebihan dari seorang ayah akan menjadikan anaknya tidak mempunyai pendirian yang teguh.

 

Sebagaimana telah didewasakannya manusia oleh Allah, seharusnya para orangtua mendidik anak-anaknya agar mengenal Allah dengan baik serta memberi bekal sebanyak-banyaknya ilmu Allah, juga ilmu dunia yang bermanfaat, agar sianak dapat mandiri dalam islam sebagai pola hidupnya disaat dewasa nanti, serta menjadi anak yang soleh dan berbakti.

 

-=*=-