Make your own free website on Tripod.com

Sufisme di Masakini

Melihat ketertarikan orang-orang pada sufisme di masa kini masihlah harus dipertanyakan, baik manfaat maupun dampaknya terhadap kehidupan masyarakat secara umum.


Sufisme adalah isme atau dapat juga dikatakan sebagai ilmu untuk menjalani kehidupan sufistik seorang sufi, yang mana diketahui bahwa akhir dari kesufian adalah awal dari kenabian, yang tentu saja menjadikan kesufian dapat di artikan pencarian kesucian yang tertinggi yang menjadi dasar atau awal kenabian, demikianlah bahwa akhir kesufian hanyalah awal kenabian menjadikan setinggi-tinggi nya tingkat kesufian tidaklah dapat mencapai tingkat kenabian.

 

Para sufi berusaha untuk selalu menjaga pandang, wudlu juga fikirannya serta segala perbuatannya, demi tercapainnya kesucian tertinggi yang dapat dicapai manusia.

 

Bagi para sufi tidak menikah adalah yang terbaik, namun bila ternyata ada sebersit saja syahwat terhadap lawan jenis, maka wajib lah hukumnya bagi mereka untuk menikah, yang sudah barang tentu mereka harus mendapatkan pasangan yang juga rela untuk dibawa hidup bersama dengan cara yang teramat sangat sederhana itu.

 

Menjaga kehalalan makanan dan minuman sangatlah penting bagi para sufi, dikarenakan pintu masuk syaitan yang paling besar adalah melalui makanan dan minuman yang tidak halal, baik haram pada makanan ataupun minuman itu sendiri, cara mendapatkannya ataupun cara mendapatkan uang yang di pakai untuk membelinya.

 

Umumnya kehidupan para sufi teramat sangat sederhana, mereka tidak akan menyimpan atau memiliki barang-barang sebagai harta melainkan hanya barang-barang sekedarnya untuk dipakai dan dimakan serta diminum saja, sesuai dengan cara mereka berpakaian serta cara mereka makan dan minum.

 

Marilah sekarang kita mengamati keadaan kehidupan secara umum, di masakini yang notabene untuk indonesia saja perbandingan antara laki-laki dengan perempuan kurang lebih berkisar antara satu banding empat (1:4) sampai dengan satu berbanding enam (1:6), yang berarti satu laki-laki seharusnya menanggung paling tidak empat (4) perempuan, 10.000.000 laki-laki berkewajiban terhadap 40.000.000 perempuan, dalam hal ini menanggung ataupun berkewajiban tidaklah di artikan dalam arti menikahi, melainkan bertanggung jawab dalam arti yang seluas-luasnya, perbandingan tersebut akan lebih besar lagi di negara-negara yang sedang dalam keadaan berperang, karena peperangan pada umumnya akan sangat berpengaruh dengan berkurangnya jumlah laki-laki, semua itu di perparah lagi dengan merebaknya kaum gay atau homo, kebudayaan tidak menikah atau kumpul kebo, juga situasi negara yang sulit menimbulkan banyak faktor stress yang dapat menghilangkan potensi laki-laki, serta kasus

-kasus lainnya yang berdampak serupa.
 

Selain itu banyak pula orang yang tertarik dengan cara hidup sufi namun tidak pernah mengira betapa sulitnya menjalani kehidupan seperti demikian serta kurangnya pengetahuan dalam ketentuan-ketentuan islam yang sedemikian kompleksnya, sehingga pada saat mencobanya malah terperangkap kepada berbangga-bangga dengan jubah ataupun baju bertambal, kehidupan para sufi adalah kehidupan yang sangat-sangat sulit bagi orang-orang pada umumnya, dikarenakan hanya orang-orang yang sudah pada tahapan tidak membutuhkan apapun selain Allah saja yang dapat menjalaninya, jadi sebaiknya bagi orang-orang yang masih membutuhkan barang-barang, baik itu barang dunia maupun barang akhirat sebaiknya tidak usah berkeinginan menjalani kehidupan kesufian.