Make your own free website on Tripod.com

Puasa

Bulan puasa atau bulan ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat serta bulan yang penuh khidmat, bulannya ummat islam berlatih prihatin lahir dan bathin, disiang hari mengharamkan yang biasanya halal, syahwat perut, dan syahwat birahi, menjaga pandangan mata, pendengaran telinga, penciuman hidung, perasa pada kulit dari hal-hal yang tidak atau kurang baik, mengendalikan emosi dan lain sebagainya, selama 30 hari atau kurang, namun kadang-kadang atau malah biasanya diakhir masa berlatih tersebut malah diisi pesta balas dendam terutama perut, tapi mungkin itu cukup sah-sah saja karena sudah merupakan budaya, walaupun mungkin seharusnya syukuran bukan pesta.


Ingat lebaran jadi ingat orang zuhud yang berkaul makan daging, pada saatnya ada daging tersebut ia tidak jadi memakannya, malah terus ditinggalkannya untuk shalat, setelah selesai shalat ada tamu datang membawakan daging juga, sambil ia menceriterakan bahwa ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, yang didalam mimpinya itu menyuruh ia datang kesini sambil menyampaikan pesan agar si orang zuhud ini berdamai dengan perutnya, jadi rupanya bagi orang zuhud juga ada kalanya harus bedamai dengan perut, jadi bagi yang berpuasa 30 hari atau kurang juga tentunya boleh sedikit memanjakan perutnya di hari kemenangannya.

 

Mengamati puasa setiap hari selama 30 hari atau kurang, jadi terbayang bahwa setiap harinya saat berpuasa sama dengan kehidupan dari lahir sampai meninggal, apalagi bila mengingat usia tua sering disamakan dengan maghrib, jadi kalau di hitung-hitung dari subuh atau lahir sampai dengan maghrib atau isya yang di anggap meninggal, maka  dapat diambil perkiraan sepuluh tahun umur berbanding dengan dua jam hari puasa, pada saat selesai subuh tubuh masih segar, perut masih kenyang, pikiran masih bersih, setelah itu maka jam demi jam berlalu rasa lapar bertambah, tubuh mulai melemah dikarenakan gula darah yang mulai menurun, emosi meningkat, daya berfikir mulai menurun, waktu makin terasa lama yang berarti kesabaran menurun, situasi seperti tersebut mirip dengan perjalanan kehidupan, bila usia mulai bertambah tubuh semakin lemah, emosi semakin meningkat serta otak pun akhirnya melemah dimakan udzur, jadi selain berlatih prihatin, kesabaran, kejujuran, puasa juga dapat diartikan sebagai  suatu latihan untuk membuat kita pandai menata prioritas serta waktu, sebab disaat kita makin lemah, kita harus lebih pandai memilih pekerjaan yang paling penting untuk didahulukan sehingga waktu dapat diefektifkan.

 

Kejujuran dalam berpuasa yang hanya menjadi urusan hamba dan Tuhannya saja itu dapat pula dijadikan sebagai ukuran kedewasaan kita, juga menjadi ukuran tingkat pengenalan kita kepada Allah yang kita tidak dapat melihatNya denga mata telanjang kita, bagi anak-anak pada umumnya yang merasa puasa hanya karena orang tua ataupun lingkungannya, bisa saja mereka mencuri-curi minum air di kamar mandi ataupun dimana saja yang menurut mereka tidak terlihat orang lain, sedangkan bagi orang dewasa yang sudanh mengerti tentu saja puasa menjadi ajang ketulusan kepada Allah yang memberi perintah puasa tersebut, sehingga akan berusaha untuk berpuasa dari mendengar, melihat, mencium, merasakan bahkan berfikir akan hal-hal yang buruk agar puasanya tidak hanya tinggal lapar serta haus saja, sehingga bagi mereka yang mengerti puasa adalah sarana berlatih mengingat Allah pada saat berdiri, duduk dan tidur, sebab selagi nyaman tidur kita harus bangun karena Allah menyuruh kita sahur, siang hari segala gangguan kita hindari karena ingat kepada Allah yang memerintahkan kita menghindarinya, maghrib kita diperintahkan untuk berbuka, juga malam sebelum tidur kita disarankan tarawih juga memperbanyak membaca Qur'an.

 

Kesehatan orang yang berpuasa pun sebenarnya bertambah, dikarenakan jam makan menjadi teratur, juga otomatis mengikuti anjuran makan setelah lapar berhenti sebelum kenyang, usus diberikan waktu yang sangat panjang untuk mencerna makanan sewaktu sahur sehingga pencernaan menjadi sangat efektif, kerak usus yang berupa lemak serta kapur berguguran, kotoran-kotoran didalam darah terbuang sejalan dengan berkurangnya gula darah, darah menjadi bersih dari racun makanan terutama daging, penyakit yang berkaitan dengan darah kotor serta darah manis tentu saja akan berkurang bahkan bisa saja hilang, sedangkan untuk otak kita yang dilatih dalam keadaan beban berat, pada saat dihari-hari biasa akan menjadi lebih cerdas serta efisien pemakaian tenaganya.

 

Seharusnya hasil dari berpuasa tersebut dipertahankan sedapat mungkin hingga bertemu saatnya puasa kembali, sebab di dalam islam kita tidaklah disuruh melakukan yang muluk-muluk, bahkan untuk panjang umur saja disarankan dimintakan dari ramadhan ke ramadhan saja, agar dapat diisi kebaikan dari hari kehari untuk di evaluasi setiap tahunnya, dengan demikian maka otomatis kita senantiasa menyongsong datangnya bulan ramadhan setiap harinya, paling tidak kita sambut untuk minta perpanjangan usia.

 

Seharusnya lagi... puasa itu hasilnya dapat memperkuat shalatnya, karena salah satu fungsi shalat adalah dapat menghindarkan kita dari berbuat keji dan mungkar yang tentu saja sangat berkaitan dengan menahan emosi serta menjaga fikiran serta memupuk kesabaran.

 

Lagi... seharusnya puasa yang menjadikan kita suci kembali baik lahir maupun bathinnya itu, yang didukung pembersihan harta denga zakat fitrahnya serta mempererat dan menyambung silaturahmi di hari lebaran, menjadikan kita benar-benar dewasa dalam berfikir serta bertindak, sehingga dapat menjadikan ummat muslim yang damai, kompak, satu visi dalam tujuan walaupun dengan misi yang berbeda-beda.

 

Seharusnya..... selesai dulu disini pembahasan puasanya...

 

-=*=-