Make your own free website on Tripod.com

Barang Berharga

Barang berharga dapat membuat kita celaka, serta membuat kita lalai dari shalat kita, juga mendustakan agama, begitulah Allah memperingatkan kita melalui surat Al Maa'uun.


Apa yang akan kita lakukan bila Allah yang Maha Kaya berkenan menjadikan kita distributor kekayaannya yang berupa harta?.

 

Tentunya ini adalah masalah harta titipan Allah, yang pada umumnya didunia akan menjadikan kita orang kaya pada pandangan orang lain.

 

Harta titipan Allah yang diambil alih kepemilikannya oleh manusia dimata manusia lain adalah dusta kepada manusia tersebut tentang Allah sebagai pemilik aslinya, dusta tentang Allah adalah dusta tentang agama yang milik Allah.

 

Allah mengutamakan distribusi harta titipannya untuk disampaikan kepada anak yatim serta perut fakir miskin, harta adalah pisau bermata seribu, yang sangat mudah melukai orang lain maupun dirinya sendiri bila tidak sangat berhati-hati mempergunakannya, sebab tersebutlah yang menjadikan kita diharuskan berlatih dengan dua setengah persen harta yang kita miliki, agar benar-benar pandai dalam mengelola serta teliti dalam mempergunakannya.

 

Menghardik anak yatim sama saja dengan menghancurkan kehidupan calon manusia yang baik, sebab pada umumnya seorang anak sangat menggantungkan modal kehidupan masa depannya kepada orang tuanya, sebab semua anak dilahirkan islam, hanya orangtuanyalah yang menjadikannya beragama tetap islam ataupun bukan, lalu bagaimana dengan anak yatim yang tidak mempunyai ayah?, apalagi anak yatim piatu yang sama sekali tidak memiliki ayah maupun ibu, tentu saja mereka mengharapkannya dari kita sebagai figur pengganti orangtuanya, itulah sebabnya kenapa kebanyakan yang peduli terhadap anak yatim adalah mereka yang sewaktu anak-anaknya pun memang yatim pula, sehingga benar-benar merasakan bagaimana sulitnya menjadi anak yatim apalagi yatim piatu, mungkin kita yang mempunyai kedua orangtua kita sewaktu anak-anak sulit untuk merasakannya, merasakan, rasa, inilah mengapa kaitannya dengan hardik.

 

Jika memikirkan serta merenungkan barulah kita akan dapat menghayati, dengan menghayati kita akan dapat sedikitnya turut merasakan, dengan merasakan barulah akan tumbuh kepedulian kita, untuk peduli saja memerlukan tahapan yang cukup panjang, apalagi kalau sebaliknya, menghardik yang berarti merendahkan.

 

Perut fakir miskin, kenapa perut?, terlalu banyak alasan orang menjadi fakir, yang dalam arti pas-pasan saja untuk hidup, pas-pasan saja mungkin tidaklah menjadi masalah jika tidak mempunyai tanggungan selain dirinya sendiri saja, alasan kemalasanpun dapat menjadikan kefakiran, begitu juga dengan sangat banyaknya alasan-alasan lainnya, termasuk alasan kebodohan yang disebabkan kemalasan belajar, yang pasti hasilnya adalah ya fakir itu, suatu kefakiran yang sangat berpotensi menjadikan kekufuran.

 

Kembali lagi kenapa perut?, sebab sesuai dengan kata-kata bijak yang mengatakan menolong orang caranya adalah dengan memberikan cangkulnya bukan hasilnya, kalau di kasih hasilnya orang jadi lebih malas mencangkul, sehingga dengan senantiasa mengisi perutnya sama saja dengan memberi modal tenaga agar yang fakir tersebut dapat bekerja sesuai dengan kemahiran yang dimilikinya, sebab kalau perut kosong sama sekali tentunya akan sulit untuk memulai pekerjaan apapun, bahkan perut kosong dapat menimbulkan kejahatan, sebagaimana sering kita dengar alasan para penjahat yang mengatas namakan perut keluarga mereka sebagai alasan utama mereka.

 

Begitu pula alasan pelacuran serta pengamen yang banyak kita lihat di pinggir-pinggir jalan serta di banyak sekali lampu merah perempatan jalan, bahkan begitu pula alasan para pelacur dan pengamen keren yang tinggalnya di gedung-gedung bagus.

 

Dalam pendistribusian harta milik Allah ini syaitan sangatlah agresif dalam membujuk serta menjebak kita agar mempergunakan harta titipan tersebut dijalan yang tidak diridhoi Allah, bahkan sampai pada jalan yang dikutuk oleh Allah, sehingga menjadi koruptor titipan, bila kita dapat menjaga serta mempergunakannya dengan baik maka syaitanpun akan membisik-bisikan kebanggaan serta pujian bagi diri sendiri yang akhirnya menjadi kebutuhan pujian serta pengakuan dari orang lain, yang mengakibatkan pembajakan pemberian Allah menjadi pemberiannya pribadi demi pujian serta pengakuan orang lain kepadanya dan bukan kepada Allah satu-satunya Dzat yang berhak menerima segala puji.

 

Sifat riya yang hembuskan oleh syaitan kepada kita adalah suatu pembajakan kepada hak segala puji hanya bagi Allah saja, ditambah lagi bila syaitan menghasut agar kita berdusta dengan memberikan barang-barang bekas yang kita sendiri pun sudah tidak dapat menggunakannya lagi, tentu saja sangat berbeda dua setengah persen nilai emas dengan dua setengah persen nilai barang bekas atau sampah, ini sungguh mirip dengan pinjaman lunak yang sering negara kita terima dari negara-negara super, pinjaman sampah berharga tinggi yang harus dicicil seumur hidup.

 

Allah mengingatkan kita agar jangan sampai barang berharga mencelakai shalat serta amal ibadah kita.

 

-=*=-