Make your own free website on Tripod.com

Jangkauan Ulama

Sejauh manakah jangkauan para ulama di indonesia ini?, begitu kurang lebih pertanyaan kita yang terheran-heran dengan bermunculannya para ulama baik yang tua-tua maupun yang muda-muda, tapi moral bangsa kita ini sepertinya masih sangat sulit untuk didongkrak nilai moral islaminya.


Duh saya susah kalau harus lama-lama di tempat ustadz A kata si fulana padahal ingin saya menambah ilmu rohani, atau paling tidak siraman rohani lah gitu, lho kenapa begitu?, barangkali kurang kemauan alias malas kali, bukan itu sebabnya, lalu?, sebabnya saya merokok, dan disana tidak boleh merokok, mau maksain juga malu soalnya ngga ada asbaknya, wah kalo saya yang merokok aja susah dapet ilmu, apa yang lebih parah dari merokok bisa mendapat kesempatan, apalagi ilmu?.

 

Duh... juga jadi bingung mikirinnya, jadi tumbuh suudzon deh nih..., apa para ustadz serta ulama kita ini maunya yang gampang-gampang aja gitu, tinggal duduk diem, orang yang butuh pada dateng, padahal yang mau dateng itu orang-orang yang relatif sudah soleh atau paling tidak sudah ada kesadaran akan kebenaran, walaupun buat yang merokok aja jadi sulit begitu, padahal yang merokok itu korban ketidaktahuan dimasa lalu, atau kalau boleh dibilang korban kampanye orang jenius yang begitu lihai menuntun orang kedalam jebakan asap rokok tersebut untuk pada saatnya digiring ke asap mimpi yang lebih berbahaya lagi, kalo begitu korban-korban masalah yang lebih berat akan sulit mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri kalau para ulamanya susah didekati bahkan mungkin merasa jijik terhadap korban-korban kasus tertentu, kasus kemiskinan misalnya.

 

Jadi penasaran melihat kasus diatas tersebut, apa sih tugas para ulama itu sebenarnya?, menyolehkan yang sudah soleh?, memberi sama yang sudah punya, dan meminta sama yang minta atau butuh?, lho kok memberi sama yang punya, minta sama yang minta? aneh sekali, itulah... memberi sama yang mau datang berarti memberi sama yang sudah soleh, alias menyolehkan yang sudah soleh, kalau minta dari yang minata?, pernah dengar di acara tanya jawab di televisi acara ramadhan seorang penelepon bertanya, ustadz saya kerja di tempat hiburan bagaimana?, tentunya penelepon ini kalau ngga butuh ngga akan nanya, lalu ustadz menjawab sebaiknya anda berhenti bekerja disitu dan mencari pekerjaan lain yang halal katanya, nah... nah... bukannya orang yang butuh tersebut minta, eh malah ustadz minta juga dia berhenti kerja, sungguh aneh padahal ia bekerja disana pun tentu atas idzin Allah sebagai ujian bagi kesabaran serta iman nya, juga sekaligus menjadi ujian bagi ustadz tersebut yang kena ditanya, alangkah lebih baiknya kalau ustadz tersebut memberi bukannya meminta, misalkan ya kalau sedang di uji harus berada di tempat yang kurang atau tidak baik janganlah sampai lupa senantiasa mengingat Allah, juga tetap jujur dalam bekerja, juga jangan putus berdo'a agar Allah segera memindahkannya ketempat orang-orang soleh yang tentu saja lebih nyaman dan aman.

 

Yaahh.. mudah-mudahan saja para ustadz dan ulama kita tidak termasuk pemalas yang hanya menunggu orang yang datang atau memanggil mereka, yang meminta dari orang yang butuh, yang hanya memilih yang amplopnya paling tebal, dan lain-lain hal yang tidak terpuji yang sering dibisik-bisikan orang, sehingga menjadi sama salahnya yang membisik-bisikan dengan orang yang dibisikannya.

 

Memang kasihan orang-orang yang terperosok ke jurang kehinaan, jarang orang yang mau bersusah-susah turun menolong ke dalam jurang, selain malas atausulit, juga takut turut terperosok pula.

 

Mungkin juga para ustadz dan ulama kita sangat sibuk dalam kesehariannya mengurusi yang sudah soleh, namun ada cara yang paling ampuh untuk mengurangi kesibukan serta memilih mana umatnya yang benar-benar soleh atau yang pura-pura soleh, caranya adalah poligami yang sudah terbukti ampuh dalam memilah ummat teruji dari yang palsu.

 

Rasanya memang akan sulit menghimbau orang yang solehnya hanya kedok, karena dia hanya butuh kedoknya saja untuk menghindari obat yang paling ditakutinya tersebut, sebab orang yang sakit jiwa tidak pernah menyadari kalau dirinya sakit, jadi sangat sulit untuk diobati, yang paling mudah dan efisien ya memang dipilah saja.

 

-=*=-