Make your own free website on Tripod.com

Haji

Musim haji sudah lewat lagi ngga terasa, sudah banyak lagi haji baru yang insyaAllah pada mabrur, tiap-tiap tahun sedikitnya dua ratus ribu haji baru di indonesia, tapi negaranya belum banyak perubahan.


Bila panggilan telah tiba bagi yang di anggap mampu untuk merelakan harta, tenaga, bahkan nyawa demi memenuhi kewajiban melaksanakan rukun islam yang kelima atau terakhir, maka berlomba-lomba lah untuk segera memenuhinya, walaupun harta yang dipakai bisa darimana saja menabung, menjual, mengambil, merebut atau apa saja yang pasti yang dipanggil pasti berangkat, karena disana juga nanti harus dipertanggung jawabkan segalanya, apakah asal buruk menjadi baik, tetap buruk atau tambah buruk, yang asal baik bisa bertambah baik, bertambah buruk, segala sesuatunya sangat tergantung yang dipanggi itu sendiri.

 

Persiapan yang dilakukan pun sangat beragam, dari mualai manasik hingga menghafal segala macam do'a dan surat serta tatacara berhaji, ada pula yang sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa kecuali ikut manasik yang semi wajib dilakukan sesuai anjuran pemerintah dan para penyedia jasa, segala persiapan barang-barangpun harus di perhitungkan sebaik-baiknya karena kopor yang akan dibawa sangat terbatas ukurannya

 

Pesawat telah mendarat di jedah baju ihram telah dipakai semenjak tadi di udara, kaki menginjak tanah jedah hati berserah kepada Tuan rumah yang mengundang, ya Allah hambamu ini di undang kemari tidak membawa pengetahuan apapun, tolonglah tuntun hamba selama hamba berada di rumahMu, masuk di gedung airport yang sudah penuh sesak dengan para undangan yang harus mengantri melewati pemeriksaan surat-surat imigrasi tentu akan menghabiskan waktu berjam-jam, ujian kesabaran pertama sebagai sambutan.

 

Lolos dari imigrasi, langsung berkumpul untuk menaiki bis, harus saling membantu dan menunggu sebelum bisa berangkat menuju makkah untuk ber umrah, ujian kedua berupa kekompakan, setelah semuanya beres bis berangkat menuju makkah, setibanya di masjidil harram mulailah acara pertama dengan niat yang sudah dipancang semenjak di udara tadi dilaksanakan dengan jiwa raga terpana dan tertegun memandang ka'bah yang selama selalu dibayang-bayangkan dan terbayang didalam setiap pelaksanaan shalat wajib dan sunahnya, mualailah simulasi perjalanan kehidupan dengan mengelilingi qiblat ummat dimulai, semua berpakaian sama maka tentu saja yang menjadi pembeda adalah isinya, demikianlah seharusnya dalam kehidupan kita memandang orang, isinya, bukan bajunya, Allah juga melihat kita dari imannya bukan tubuhnya ataupun bajunya, tanpa terasa tujuh putaran yang dalam kebiasaan arab tujuh sering dipersamakan dengan tidak terhingga, jadi tujuh putaran dianggap sama dengan sepanjang perjalanan hidup, telah berlalu dengan cukup mulus tanpa mendorong, menyikut, menarik ataupun menginjak kaki orang lain, sekarang tibalah waktunya untuk menghayati bagaimana caranya berjuang dalam kehidupan yaitu sa'i, yang di contohkan oleh siti Hajar, yang berjuang tanpa mengenal putus asa demi hidup anaknya yaitu nabi Ismail, berlari-lari mencari air yang sudah barang tentu saja tidak akan ada kecuali dengan idzin Allah yang Maha Menjadikan, bagaimana tidak, kota makkah yang berupa batu keras yang sangat besar terapung di samudera pasir, tentu saja bagaimanapun kita peras otak kita untuk memakai akal sehat kita untuk menerima kenyataan bahwa di tempat pulau batu tersebut kita akan mendapatkan air tentu saja adalah hal yang sangat mustahil, kecuali kita harus mencarinya puluhan kilometer di luar makkah barulah akan menemukannya, jika mengikuti akal sehat kita tentu saja kita akan memilih berpasrah diri menanti kematian, disinilah Allah memberitahukan kita semua melalui siti Hajar, bahwa akal sehat kadang kala atau bahkan seringkali menipu kita, seharusnya kita berusaha terus sampai titik darah penghabisan dan menyerahkan hasilnya kepada Allah yang Maha Tau lagi Maha Kuasa, walaupun menurut akal sehat kita tidak mungkin sekalipun, tidak ada yang mustahil bagi Allah Pencipta alam semesta, tanpa terasa lagi tujuh balik sa'i bersama Siti Hajar dan nabi Ismail telah selesai, ah... segarnya air zam-zam pemberian Allah kepada hambanya yang berusaha dengan sepenuh jiwa, raga dan imannya.

 

Acara sambutan pertama bagi para undangan telah selesai, masih harus menunggu acara utama sebaiknya diisi dengan menikmati hidangan rahmat, berkah, karomah, serta pahala yang berlimpah-limpah yang telah di sediakan di rumah Allah yang bernilai seratus ribu kali masjid-masjid pada umumnya, walaupun ternyata Allah tidak dirumahnya, melainkan menunggu di tempat yang telah di janjikan, InsyaAllah akan dapat sampai disana pada hari yang telah ditentukan, di rumah Allah ini ada yang sangat membingungkan yaitu ada beberapa tempat yang di istimewakan, setelah perkalian yang sedemikian banyaknya masih ada lagi yang diistimewakan sungguh luar biasa dan sangat menggoda, tapi jadi malu hati bila harus memburu tempat-tempat tersebut kesannya rakus sekali, setelah diberi limpahan hidangan yang luar biasa masih juga memburu lebih, apalagi bila sampai harus saling menyikut, dorong tarik dan lain sebagainya rebutan, kecuali dengan cara bersaing yang sehat tentu saja tidak masalah, yah di coba saja untuk mencapainya dengan cara sesehat mungkin sebagaimana di contohkan dalam sa'i, tidak ada yang tidak mungkin kalau memang sudah rizkinya, ah... ujian ketiga, ujian untuk mengendalikan nafsu..

 

Besok hari yang di tentukan akan datang, berangkat ke mina, tempat simbol kelahiran di dunia, dimana syaitan pertamakali mengganggu manusia, dan akan terus mengganggu hingga sakratul maut tiba, yang juga tersimbolkan di kota mina, bermalam dimina, pada saat subuh yang berarti kelahiran mulailah kita berfikir mencari Allah, pencarian yang menghabiskan separuh usia akhirnya membawa kita menemukan Allah di Arafah pada saat pertengahan hari lebih sedikit, atau lebih tepatnya pada saat dzuhur, Allah yang Maha Pengampun mengampuni siapapun yang datang kepadanya, semua yang hadir di arafah diampuni dosa-dosanya dari semenjak lahir hingga saat itu, pada saat bersih dari dosa-dosa do'a manusia menjadi makbul, oleh karena itu Allah memberikan waktu enam jam untuk melakukan kegiatan-kegiatan kuthbah, berdo'a, berdzikir, bersyukur dan lain sebagainya, yang juga enam jam tersebut menjadi simbol akhir usia kita yang sudah di beri penerangan oleh Allah, seharusnya dapat mengisi sisa usia tersebut dengan segala kegiatan kehidupan yang diridhoi oleh Allah, saat maghrib tiba berangkat menuju musdalifah untuk mengambil batu secukupnya juga menginap, yang juga merupakan simbol dari kelahiran menjadi manusia baru yang telah mendapat penerangan dari Allah, yang berjanji atau paling tidak berniat menjalani kehidupan di jalan yang diridhoi oleh Allah dengan berbekalkan  senjata batu-batu tersebut, saat subuh yang juga merupakan saat kelahiran manusia baru serta telah berjanji atau berniat tersebut berangkat menuju mina sebagai tempat menghabiskan sisa usia dengan jalan yang di ridhoi Allah, pada saat dhuha yang disimbolkan sebagai usaha mulailah persiapan kegiatan percobaan pertama melawan syaitan dengan melempar jumrah sebanyak satu kali tujuh batu dilaksanakan pada saat dzuhur, tujuh batu dapat di artikan tidak terhingga ataupun terus menerus, setelah selesai, kembali melakukan kegiatan sehari-hari dengan simbol tawaf serta sa'i, mabit atau bermalam di mina selama tiga atau empat hari bisa juga di artikan selamanya, malam-malam di mina di isi dengan taklim atau juga diskusi keagamaan, atau saling bertukar dan saling berbagi ilmu dengan orang-orang dari seluruh dunia, dalam hari-hari selanjutnya perjuangan melawan syaitan ditingkatkan dengan tiga kali tujuh batu perharinya, yang berarti melawan syaitan yang berbentuk manusia, jin serta setan yang berada dalam diri sendiri yang akan dilakukan terus menerus selama sisa hidup kiata, akhirnya kembali ke rumah Allah untuk berpamitan dengan tawaf perpisahan, yang berarti kita senantiasa siap melaksanakan apa yang telah di janjikan dimanapun kita berada.

 

Menanti saatnya bertemu Rasulullah SAW. di rumahnya di madinah untuk berterima kasih atas usahanya serta kegigihannya  menyampaikan segala berita Allah kepada kita tanpa menambah maupun menguranginya, waktu tetap diisi dengan menikmati hidangan seperti yang lalu namun sekarang selalu penuh dengan rasa haru, akhirnya tiba waktu keberangkatan ke rumah Rasulullah SAW. sesampainya disana langsung menuju beranda syurga hadiah Allah kepada RasulNya tercinta yaitu Rhauda shalat dan berdo'a, airmata haru tak dapat ditahan mengalir deras terbayang-bayang perjuangan Rasulullah SAW. bersama keluarganya yang sedemikian gigihnya memperjuangkan syiar islam, setelah selesai lalu berjalan kekiri yang tidak jauh kemudian bertemulah kita dengan Rasulullah SAW. walaupun hanya makamnya saja, namun Beliau senantiasa dekat dihati bagaikan seorang ayah yang kita selalu teringat dengan segala pesannya, dihadapan Beliau kita memberi salam do'a keselamatan, serta bersaksi bahwa Ia telah menyelesaikan seluruh tugas kerasulannya kepada kita, sebagai rasa terimakasih dan hormat kita.

 

Tinggal menunggu waktu kembali ke tanah air, sambil menghabiskan waktu menunggu kepulangan dengan menikmati hidangan yang bernilai seribu kali di masjid-masjid lain, kita juga mengunjungi rumah-rumah para sahabat dan keluarga Beliau.

 

Akhirnya tiba kembali di tanah air dalam kehidupan yang nyata serta membawa bekal janji serta ridho allah, untuk mengarungi sisa kehidupan nyata secara islami.

 

-=*=-