Make your own free website on Tripod.com

Dzikir

Sekarang ini sedang musim yang namanya dzikir akhbar yang menimbulkan cukup banyak pro dan kontra, juga di mesjid-mesjid banyak imam memimpin do'a dan dzikir setelah shalat berjemaah, juga masih sangat banyaknya orang yang berdzikir hingga beribu-ribu kali demi ketercapaian hajatnya.


Tuhanmu tidaklah tuli oleh karenanya kita disuruh merendahkan suara kita, jika ada yang melantunkan ayat-ayat qur'an kita hendaknya mendengarkan dengan seksama, dan lain sebagainnya larangan.

 

Lalu kenapa masih banyak saja yang melantunkannya keras-keras dan bersama-sama?, alasannya tentu saja beragam, ada yang beralasan daripada ngumpul ngga keru-keruan lebih baik dzikir bersama, ada juga yang kalau ramai-ramai baru percaya diri, ada yang sudah terbiasa waktu di pesantren dan lain-lain alasan.

 

Sebenarnya memang bila di pesantren pada umumnya dzikir serta berdo'a dipimpin oleh kiai nya, sebab semua santri masih belajar, jadi biar cepat dan seragam maka dipimpin oleh kiainya atau siapa saja yang menjadi imam saat shalat berjemaah tersebut, lalu kenapa diluar pesantren hal tersebut masih juga terbawa-bawa?, selain kebiasaan memang masyrakat kita belum terbiasa belajar sendiri jadi segalanya diserahkan ke imam untuk selamanya, karena memang tidak pernah mau belajar.

 

Memang bangsa kita kebanyakan malas belajar, jadi maunya mengikut dan menyerahkan saja seratus persen kepada yang dianggap mengerti tanpa mau lagi menelaah apa yang dibaca serta apa artinya, sedangkan yang dianggap mengerti itu juga adalah yang tadinya  ikut-ikutan juga jadi belum pernah menelaah juga, makin sulitlah akhirnya mencari yang memang mau mengerti serta belajar, bahkan akhirnya karena terbiasa mengambil cara mudahnya serta kebiasaan itulah yang menjadikan yang benar menjadi hal aneh ataupun menjadi asing.

 

Kebiasaan menitipkan do'a ke orang lain inilah yang menjadi berlarut-larutnya kekeliruan yang menyebabkan kehilangan arti sebenarnya dari do'a maupun dzikir, orang hanya tertuju kepada satu tujuan saja yaitu hasil ataupun kemakbulan do'a tersebut dengan mempercayakannya kepada orang yang dianggap bersih, soleh ataupun terlihat meyakinkan secara penampilannya, karena menganggap dirinya sendiri kurang berpotensi dalam berdo'a atau berdzikir, padahal yang mengetahui keinginan, kesungguhan, ketulusan dari do'a adalah dirinya sendiri, sedangkan menitipkannya ke orang lain kita tidaklah tahu orang tersebut membaca do'a apa, artinya apa perasaannya bagaimana, apakah orang tersebut juga memiliki apa yang kita mintakan sehingga mungkin saja orang tersebut lebih membutuhkan sesuatu yang kita minta tersebut, seperti aneh tapi nyatanya orang yang pergi ke dukun untuk meminta harta yang banyak dari dukun yang meminta bayaran yang tentunya meminta bayaran tersebut dikarenakan dukun tersebut pun membutuhkan harta.

 

Fungsi lain dari do'a atau dzikir yang menjadi hilang dengan menitip pada orang lain adalah fungsi mengingatkan kita terhadap sesuatu yang di do'akan ataupun di dzikirkan tersebut, juga kehilangan menghadirkan Allah serta RasulNya yang seharusnya teringat atau terbayangkan pada saat kita meminta itu kita meminta kepada siapa dan menurut siapa bahwa Allah akan mengabulkan permintaan kita, bukannya hanya tinggal bicara atau minta ke orang lain lalu tidur menanti hasil, padahal hukumnya sudah jelas setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang diusahakannya.

 

Para ustadz dan ulama yang sudah mengerti hukum merendahkan suaranyapun, masih juga memimpin do'a maupun dzikir bersama dengan suara keras di mesjid-mesjid umum dikarenakan mereka menganggap sebagai pembelajaran bagi mayarakat kita, sebab memang masyarakat kita masih sangat banyak yang harus belajar untuk ingin tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, jadi jangankan untuk belajar berdo'a atau berdzikir sendiri, untuk merasa ingin tahu saja apa yang sedang mereka ikuti tersebut, mereka masih harus belajar, rasa ingin tahu terhadap urusan diri sendirinya sangatlah kurang, tetapi kalau soal urusan orang lain, apa itu aib maupun ghibah bahkan fitnah sangatlah antusias.

 

Dzikir itu sendiri sebenarnya berasal dari dzikrullah atau mengingat Allah yang tentu saja fungsi sebenarnya adalah untuk mengingat Allah, bila kita sering mengingat Allah tentu Allah juga akan mengingat kita, bila Allah mengingat kita berarti suasananya dekat sekali dengan kita, jika dekat tentu saja permohonanpun mudah terdengar serta terkabulkan.

 

Tentang berdzikir dengan jumlah ratusan bahkan ribuan hitungan, sebenarnya juga merupakan sarana atau cara pembelajaran bagi kita, sebab jika kita berdzikir atau wiridan dengan hitungan yang banyak maka yang akan lebih kuat adalah tekanan hitungannya bila dibandingkan dengan tekanan ucapannya itu sendiri, juga pengulangan yang banyak serta cepat tersebut malah menghilangkan arti dari apa yang kita ucapkan tersebut, sebenarnya manusia itu adalah makhluk yang sangat tersibukan oleh dunianya, sehingga sangat sulit dunia tersebut memberi kesempatan kepada kita untuk mengingat Allah, oleh karena itu orang-orang bijak telah membuat suatu cara berlatih dengan jumlah hitungan tertentu agar kita dapat memperkirakan waktu yang terpakai oleh jumlah tersebut berapa lama, setelah kita mengetahuinya maka sebenarnya sekianlah waktu yang siap akan kita korbankan dari dunia untuk mengingat Allah dengan mengulang perlahan-lahan ucapan disertai  perenungan arti dari ucapan tersebut.

 

Misalkan berdzikir Subhanallah tiga puluh tiga kali menghabiskan waktu satu menit, maka kita dapat memakai waktu satu menit tersebut untuk merenungkan dzikir Subhanallah... Maha Suci Allah... Allah Maha Suci, kita manusia sebagai hamba tentu saja kotor dihadapannya, semoga Allah mensucikan kita atas kehendakNya, atau sesuai dengan penghayatannya sendiri, dengan penghayatan tersebut satu menit mungkin hanya akan mendapatkan tiga kali pengulangan saja, namun bila perenungannya tersebut menghasilkan suatu kebenaran yang hakiki maka akan menghasilkan setara seribu rakaat shalat yang diterima.

 

-=*=-