Make your own free website on Tripod.com

Bercermin

Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan rupaku, baguskan pula akhlaku, begitulah do'a yang dipanjatkan pada saat kita bercermin, ya... seharusnya begitu... walaupun karena seringnya bercermin akan menjadi bosan membacanya atau akan menjadi cepat karena sudah terbiasa sekali.


Ada juga yang mengartikannya menjadi rupa kejadianku dikarenakan sewaktu di buat dahulu..dahuluuuu kala, yang katanya waktu manusia dibuat, dibuatnya dalam keadaan sempurna, tapi rasanya aneh kalo jadi berarti do'anya untuk jaman dahulu, karena do'anya dibaca terus sampai akhir jaman, juga sekurang apapun rupa manusia tetap lebih bagus dari makhluk lainnya sesama ciptaan Allah, sebab tidak ada yang mau anggota tubuhnya diganti kera.

 

Nah.. nah... tanpa terasa dari tadi rasanya normal-normal saja kita membaca tulisan diatas tentang do'a, dari mulai dipanjatkan sampai dengan membacanya terus dibaca, padahal disitulah letak kerikil yang lebih mudah membuat kita terpeleset dibandingkan batu, seharusnya do'a itu dipanjatkan dan bukan dibaca, dan bukan pula membaca do'a tetapi seharusnya berdo'a, kelihatannya serupa tapi benar-benar tidak sama, dari terpeleset berdo'a lama-lama akhirnya terperosok ke jurang, karena kasus yang sama terjadi dalam hal yang sudah sangat umum bahwa membaca Qur'an dianggap sama dengan ngaji, padahal bedanya sangat-sangat jauh, kalau membaca Qur'an berarti tilawah atau mengalunkan, sedangkan mengaji seharusnya mengkaji Qur'an, sebab tanpa terasa kalau ngaji dianggap tilawah maka kalau ditambah dengan maksud menjadi do'a pula, akhir-akhirnya akan berubah lagi setelah merasa do'a nya terkabul, ngajinya jadi berkhasia do'a sehingga berubahlah dari mengaji menjadi ajian yang artinya mantera, dan yang menjadi lebih parahnya adalah pada dasarnya orang-orang pada umumnya lebih suka yang begitu, yang penting hasil walaupun salah.

 

Setelah kita mengamati masalah kebiasaan tersebut di atas, sekarang kita berpindah ke masalah terbiasa yang sebenarnya bisa lebih berbahaya, karena orang setelah merasa susah payah menghafal do'a biasanya akan berusaha merawatnya sehingga menjadi fasih dan lancar, namun setelah fasih itulah biasanya terjadi keterbiasaan yang oleh syaitan di plesetkan dengan sistem terburu-burunya yang ampuh, sehingga do'a tersebut hanya tinggal menjadi reflex saja, disini baca anu, disitu baca anu, dianu baca anu yang akhirnya tidak lagi merupakan sebuah do'a yang seharusnya sebuah permintaan sekaligus koreksi diri, begitulah cara syaitan memasang jebakan lalai kepada kita dengan sistem terburu-burunya.

 

Itulah maslah kebiasaan dan keterbiasaan yang dapat menjauhkan kita dari berbagai macam arti atau hikmah, sehingga kita tidak sadar menjadi orang-orang yang merugi, padahal menurut surat yang masa dipersumpahkan kita harus saling mengingatkan dalam hal-hal kesabaran, keimanan, kebaikan dan lain sebagainya, agar tidak menjadi orang-orang yang merugi, juga surat tersebut mengingatkan kepada kita bahwa saling mengingatkan tersebut adalah termasuk mengingatkan diri sendiri alias berusaha selalu sadar, karena hukumnya memberi itu kalau kita mempunyai, jadi mengingatkan juga tentu saja kitanya harus ingat.

 

Kembali ke masalah do'a yang berfungsi sebagai permintaan sekaligus koreksi diri, pada saat bercermin kita meminta agar diberi akhlak yang bagus karena Allah sudah membuat bagus rupa kita, juga sebaliknya kita jadi bertanya, apakah setelah rupa kita dibikin bagus kita pantas berakhlak buruk?, atau sudah berusahakah kita memperbaiki akhlak?, pada akhirnya akan selalu menjadi lebih banyak mengingatkan diri sendiri daripada meminta, seandainya saja kita tidak terkena hasutan syaitan agar tegesa-gesa yang disebabkan oleh kita sendiri yang kurang pandai menata waktu, seandainya kita bersedia meluangkan waktu sejenak saat bercermin untuk menghayati do'a tersebut, untuk mengingat serta merenungkan kepada Pencipta rupa kita yang tidak ada satupun rupa yang sama persis, yang Maha Pengasih lagi Penyayang yang membaguskan rupa kita, yang Maha Kaya yang mengabulkan segala do'a, yang tiada sesuatupun yang dapat menyerupaiNya, yang dengan do'aNya menjadikan cermin sebagai pengingat, yang mengingatkan kita bahwa ada rupa saudara kita yang perlu disantuni benda akhirat, yang mengingatkan kita apakah rupa yang bagus tersebut sudah disyukuri agar Allah melipatkandakannya, yang kelengkapan tubuh dari rupa tersebut juga patut di syukuri bagian demi bagiannya, yang juga senantiasa mengingatkan agar kita waspada pada usia yang setiap kali bercermin kita sebenar-benarnya adalah berubah menua, serta beribu-ribu yang yang lainnya yang tidak mungkin ditulis disini semuanya.

 

Berbicara soal saudara kita yang serupa dengan bayangan di cermin yang perlu disantuni benda akhirat, siapakah dia sebenarnya, bayangan cermin menunjukan bayangan tubuh kita yang perlu santunan atau bahan bakar benda dunia berupa makanan, minumam, birahi, atap, dinding, ongkos dan seterusnya agar tetap terawat serta dapat melakukan segala kegiatan di dunia ini, sedangkan di sisi lain ada yang di sebut khorin atau siir atau katakan saja ruh yang perlu santunan benda akhirat berupa makanan ruhaniah, amal, pahala dan juga lain-lain seterusnya, agar dapat terus melakukan kegiatan akhirati.

 

Melihat bayangan tubuh kita di cermin, akan terlihat perubahan yang dikarenakan usia, yang mengingatkan kita betapa sukar untuk merawatnya, baik dengan menjaga pola makan, pola berolah raga serta pola-pola lainnya agar tetap dapat terawat baik bentuknya maupun kesehatannya, sehingga do'a kita agar di baguskan akhlaknya juga menjadi do'a agar diberi kemampuan serta ilmu untuk merawatnya agar tetap bagus rupanya, disamping itu bila kita melihat tubuh kita, tentu pula akan teringat bahwa ada dua syahwat didalamnya sebagai naluri bertahan hidup serta berketurunan yang diberikan Allah, suatu naluri atau perangkat yang dibutuhkan namun juga sangat sulit mengendalikannya, dengan demikian maka bertambah lagi do'a yang harus kita panjatkan tersebut dengan meminta diberi kemampuan serta ilmu untuk mengendalikan naluri tersebut.

 

Eh... sudah cukup panjang ceritera soal bercermin ini yang menjadikan kita berdzikir mengingat Allah di saat berdiri atau duduk, yang menjadi renungan sesaat dalam kehidupan, yang menjadi pengingat serta koreksi diri, yang menjadi yang, yang dan yang, yang lain sebagainya, yang tentu saja akan menjadi terlalu panjang dan tiada habis-habisnya selama tubuh kita dan cermin tersebut masih ada, jadi ada baiknya dicukupkan dulu sampai disini saja.

 

-=*=-