Make your own free website on Tripod.com

Besar manakah antara Hati atau Jiwa

Banyak orang berpendapat, hati yang berada di dalam dada adalah jantung, atau paling tidak sebesar jantung, atau yang didalam ulu hati berarti sebesar lever, sedangkan jiwa adalah otak atau pula fikir, fikiran atau otak kita dapat merekam lingkungan dari seluruh panca indera kita, setiap saat, sepanjang kita hidup, betapa luas atau besarnya daya simpan otak kita, yang dapat di asumsikan juga dengan besar atau luasnya jiwa, namun ada peribahasa dalam nya hati lebih dalam dari lautan, walaupun tentunya ada hati besar dan juga ada hati kecil, jadi pertanyaannya adalah besar manakah antara hati atau jiwa?.


Hmmm... ini kelihatan rumit permasalahannya, harus mualai dari mana agar menjadi lebih mudah untuk mengamati serta mencermatinya, kemungkinan kita harus memulainya dari tubuh kita sebagai kendaraan kita selama mengarungi dunia ini dengan bekal usia yang tidak ada yang tahu berapa lama diberikan oleh Allah kepada kita, yang InsyaAllah cukup untuk mengumpulkan ilmu yang bermanfaat, juga pengalaman kehidupan yang penuh hikmah serta mendapatkan  serta mendapatkan keyakinan yang hak, sehingga dapat mencapai pengenalan yang dalam kepada Allah, Dzat Ahad yang Maha Suci lagi Maha Segala yang Baik, aamiin.

 

Tubuh, berasal dari segumpal daging, yang pada usia kandungan empat bulan Allah tiupkan padanya ruh, sehingga bernyawalah tubuh tersebut, bersamaan dengan nyawa dan ruh, tumbuhlah jiwa serta tumbuh pula raganya, selanjutnya, bersamaan dengan terlahirnya tubuh ke dunia maka kelima panca indera mulai bekerja untuk merekam atau mengingat suasana di sekitarnya, saat itu syahwat perut pun mulai beraksi sebagai naluri bertahan hidup, pada saat otak mulai terisi maka mulailah sang jiwa belajar ilmu awal kehidupan, ada rasa lapar dari syahwat perut, rasa nyaman kehangatan bundanya serta rasa-rasa lainnya yang dilaporkan oleh inderanya, semenjak itulah jiwa belajar  terus-menerus dari segala yang dilihat, didengar, dicium, dirasa dan lain sebagainya, pada usia balita hingga remaja jiwa belajar pula dengan meniru orang tuanya, juga kehidupan lingkungan di sekitarnya serta mulai mencari kesimpulan-kesimpulan dari pelajaran yang didapatkannya, pada masa remaja tersebut syahwat birahi mulai bekerja sebagai naluri untuk berkembang biak atau berketurunan, setelah memasuki masa dewasa dan seterusnya, jiwa terus belajar dan menyimpulkan.

 

Nah... dengan mengamati proses kehidupan tubuh serta jiwa, pada saat tubuh terlahir kedunia fana ini mulailah jiwa belajar juga mulai tumbuh pula rasa dalam hati sebagai manifestasi dari kesimpulan ilmu yang didapatkannya, kiranya inilah yang dinamakan hati besar, atau bisa juga kita sebut perasaan.

 

Ternyata... hati besar adalah perasaan, sedangkan jiwa adalah fikiran kita, atau bisa juga dibilang jiwa adalah kita, ya... kita yang sedang berfikir inilah jiwa...

 

Sekarang tinggalah hati kecil yang harus kita cari keberadaanya, kapan dan dimana dia muncul?, hmmm... lagi... ternyata hati kecil telah ada lebih dahulu dari jiwa dan perasaan kita, dialah ruh yang pada masa usia kandungan empat bulan ditiupkan oleh Allah sebagai pembangkit nyawa serta penumbuh jiwa, lalu apa sajakah fungsi dari hati kecil ini?, kiranya hati kecil sebagai ruh adalah pengikat nyawa, jiwa dan perasaan  pada tubuh, sedangkan hati kecil sebagai cahaya naluri akhirati yang sering di umpamakan sebagai minyak zaitun yang tidak ada di timur dan tidak pula  ada di barat, yang seakan-akan menyala dengan sendirinya tanpa tersentuh oleh api sekalipun, atau biasa di juluki pula lentera jiwa atau penerang bagi jiwa atau jendela hati atau pula mata bathin, yang bila kita rawat dengan baik akan selalu berkicau ke dalam hati kita, yang hanya dapat berkata benar atau salah, ini benar atau ini salah, itu benar atau itu salah, harus begini atau harus begitu, tidak boleh begini atau tidak boleh begitu yang sedemikian kakunya tanpa ada kata tapi atau tapi kan, karena kalau sudah ada kata tapi ataupun tapi kan, berarti itu hati besar yang berbicara.

 

Jika hati kecil itu adalah benda ataupun dzat akhirati, maka kita akan mencoba untuk membandingkan dunia dan akhirat atau bila perlu kita membandingkan alam semesta dengan akhirat, kita ketahui bahwa bumi atau dunia dibandingkan dengan akhirat bagaikan setetes air dengan lautan, sedangkan alam semesta hanyalah selebar kaki kursi Allah ayang Maha Besar, jadi sudah barang tentu akhirat sangatlah besar walaupun di bandingkan dengan alam semesta, maka dengan melihat kenyataan ini saja dapat di perkirakan bahwa hati kecil lebih besar dari tubuh maupun jiwa kita, setidak-tidaknya hati kecil berbanding jiwa bisa saja di anggap draw atau sama besar, dengan alasan bila kita tawadhu atau merendahkan atau mengecilkan hati besar, maka jiwa kita membesar oleh besarnya cahaya akhirati dari hati kecil.

 

Seandainya hati kecil kita umpamakan jendela hati atau lentera hati ataupun jendela akhirati, maka jendela seperti apakah atau  lentera seperti apakah hati kecil tersebut, apakah mungkin jendelanya penuh seperti kulit telur?, mata adalah jendela kita ke dunia luar, kitanya lebih kecil dari dunia luar, atmosfir adalah jendela sekaligus pelindung dunia terhadap alam semesta, dunia lebih kecil dari alam semesta, jika hati kecil adalah jendela seperti kulit telur ataupun seperti atmosfir terhadap akhirat, maka kitalah yang berada didalam kulit telur ataupun atmosfir hati kecil tersebut, dengan demikian maka jelaslah hati kecil lebih besar dari kita.

 

Meninjau perbandingan besar dan kecil antara hati kecil dan jiwa, maka bila yang dikatakan hati kecil tertutup oleh kerak amal buruk, maka yang akan terperangkap oleh kerak tersebut bukanlah hati kecil, tetapi jiwa kitalah yang terpeangkap di dalam kerak tersebut, oleh karena itu bila kita meninggal dengan hati kecil yang berkerak tebal, tubuh kita akan hancur namun jiwa kita terperangkap didalam kurungan kerak, tentu saja kita tidak akan pernah sampai di akhirat, jikalau Allah tidak berkenan menghancurkan belenggu kerak tersebut, Allah Maha Kuasa serta Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang tiada sesuatupun dapat mencegah kehendaknya.

 

-=*=-