Make your own free website on Tripod.com

Kebenaran

Pada umumnya semua orang merasa benar sendiri, begitu juga golongan serta negara, semua mempunyai ukuran-ukurannya sendiri terhadap kebenarannya.


Kebenaran yang hakiki adalah kebenaran akan sesuatu yang disampaikan dari pembuat sesuatu tersebut melalui penyampai atau utusan yang terpercaya, sebab hanya pembuatnya saja yang mengetahui dengan persis apa yang dibuatnya tersebut, sebagaimana perusahaan kendaraan merek tertentu, maka perusahaan tersebut tentu mengeluarkan buku panduan cara merawat kendaraan yang mereka buat, dan tentu saja mereka tidak membuat panduan untuk perawatan kendaraan dari perusahaan lain, karena mereka tidak tahu persis bagamana perusahaan lain membuat kendaraannya.

 

Begitu juga cara merawat manusia, tentu hanya pembuat manusia lah yang benar-benar tahu bagaimana cara merawat manusia, begitu tentang manusia, maka begitu pula tentang alam semesta, tentu hanya Allah saja sebagai pencipta manusia dan alam semesta yang mengetahui sebenar-benar cara merawat dan cara untuk mengendalikannya.

 

Banyak orang berusaha mencari cara makan serta diet yang benar, bahkan sampai ada daftar segala makanan dengan kandungan isinya sehingga orang dapat mengatur makan ini-itu, segini-segitu juga harus begini-begitu agar tetap sehat, kuat, bagus dan lain sebagainya, begitu sulitnya orang-orang tertentu yang merasa ingin dianggap lebih tahu dari Allah dalam hal tubuh manusia itu mengarang aturan sendiri berdasarkan penelitian yang mereka lakukan serta mereka anggap paling benar, padahal Allah yang menciptakan manusia dalam hal makanan cukup menerangkan makan sesudah lapar berhenti sebelum kenyang, hanya memakan yang halal serta berpuasa, tentunya jika tidak mau mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Allah maka akan menjadi sulit dan bertele-tele plus tidak terjamin kebenaran hasilnya.

 

Manusia dengan segala rasa lebih tahunya yang anti tawadhu itulah yang membuat segala sesuatu seharusnya mudah, menjadi rumit serta bertele-tele, ditambah lagi keinginan menumpangkan kepentingan pribadi ataupun golongannya menjadikan semakin tidak jelas dan menjauh dari kebenaran Allah.

 

Sudah banyak manusia bahkan yang mengaku muslim sekalipun yang menjadikan kebenaran berpatokan kepada banyaknya orang yang setuju, bukannya kepada kebenarannya itu sendiri, sehingga kalau orang terbanyak yang dapat dibeli menyatakan benar maka sesuatu yang salahpun akan menjadi benar, padahal Allah sudah mengingatkan bahwa yang selamat adalah golongan yang sedikit, yaitu orang-orang yang menempatkan Allah diatas segala-galanya dengan sesadar-sadarnya..

 

Menurut  rujukan ciri-ciri akhir jaman, pada saat akhir jaman tersebut hampir semua manusia terseret oleh kebenaran dajjal dan tercabut dari kebenaran Allah, oleh karenanya kita haruslah benar-benar mewaspadai kebenaran yang mana yang akan kita ikuti, kebenaran makan daging steik secara umum adalah dengan garpu di tangan kiri lalu pisau di tangan kanan, yang menyebabkan kita menjadi makan dengan tangan kiri, sedangkan yang makan dengan tangan kiri adalah syaitan, di kening dajjal ada tulisan kafaro yang berarti kafir yang hanya dapat dibaca oleh orang muslim baik ia dapat membaca tulisan maupun tidak, apakah kita dapat membaca tulisan tersebut?, lalu bagaimana membacanya agar kita tidak termasuk orang-orang yang terseret dajjal?.

 

Di gua hira tempat Rasulullah SAW merenung, Ia yang tidak dapat membaca tulisan di suruh membaca, bacalah... bacalah... bacalah dengan nama Tuhanmu, jadi bacalah atau renungkanlah segala sesuatu dengan mengingat Allah, maka jika sesuatu tersebut kembali kepada mengingat Allah ataupun kembali kepada kebenaran Allah maka sesuatu tersebut memang benar dari Allah, namun jika sesuatu tersebut tidaklah kembali kepada Allah, maka tentu datangnya bukan dari Allah melalui RasulNya.

 

Di jaman sekarang ini sudah banyak sekali usaha dari pasukan dajjal yang berusaha menjelek-jelekan pribadi Rasulullah SAW dari seribu sisi kebenaran menurut umum yang memang sudah dibina oleh dajjal selama puluhan bahkan ratusan tahun, sehingga orang yang tidak berpegang kepada kebenaran Allah akan melihat Utusan Allah yang terpercaya tersebut menjadi mempunyai banyak sifat yang tercela dimata umum, sungguh ini adalah hal sangat perlu diwaspadai, sebab kehilangan figur Rasulullah SAW saja berarti kita sudah kehilangan syahadat kita, maka dengan sendirinya bila tercela yang menyampaikan tentu akan tercela pula yang disampaikannya, akhirnya akan tercela pula yang menyuruh menyampaikannya, jika yang demikian itu terjadi maka hilanglah segalanya.

 

Jadi kebenaran manakah yang akan kita ambil?, kebenaran yang segalanya akan mengembalikan kita pada kebenaran Allah, ataukah kebenaran yang menguntungkan kita pribadi namun menghancurkan kebenaran Allah serta RasulNya? alias menjual agama demi kepentingan pribadi, dan hanya kepada Allah lah semua akan kembali untuk menerima ganjaran sesuai perbuatannya didunia.

 

-=*=-