Make your own free website on Tripod.com

Syukur

Apakah anda sudah mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu?, biasanya jawabannya adalah sudah!, lalu disusulkan pertanyaan kedua, kapan?, tentunya segera setelah mendapatkannya, begitulah umumnya jawaban bagi pertanyaan kedua, juga umumnya itu sudahlah dirasakan cukup atau bahkan yang terbaik, kenapa terbaik?, karena dilakukan sesegera mungkin.


Bila kita amati apakah arti sebenarnya dari kata cukup apalagi yang terbaik, maka akan kita dapati bahwa kedua kata tersebut mempunyai arti selesai sampai disitu saja, sebagai gambaran, itu sudah cukup berarti sudah tidak akan di tambah lagi, berarti selesai sampai disitu saja, itu yang terbaik berarti tidak bisa memberi lebih lagi, karena itu sudah maximal, yang berarti selesai sampai disitu saja juga.

 

Melihat alasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dialog di atas tersebut berarti Allah selesai memberikan sesuatu kepada kita, lalu kita sesegera mungkin bersyukur sebagai rasa terima kasih kita kepada Allah, maka selesailah seluruh tatacara serah-terima tersebut, dan kitapun merasa kita sudah mensyukuri pemberian Allah tersebut.

 

Hmmm... tetapi rasanya tidaklah sesederhana itu seharusnya tatakrama syukur-mensyukuri karunia Allah, apa sebenarnya yang menjadi kejanggalan dari kesimpulan di atas tersebut?, apakah kesimpulannya yang salah?, atau dialognya yang salah, ataukah  perasaannya yang salah?, ngngngng.... hmmm... zzz... ou... rupanya kata merasa dan mensyukuri pada kesimpulan yang salah, tetapi kenapa jadi ada kesalahan dalam kesimpulannya, apa mungkin dialognya juga salah?,  kelihatannya sih begitu.. tapi dimana salahnya?, ngngngngng lagi.... aahh... ternyata ada kesalah fahaman didalam dialog, yaitu antara maksud pertanyaan mensyukuri yang dikira bersyukur oleh penjawab.

 

Ehh.. apa bedanya?, beda sekaliii, coba kita amati salah satu rujukan pada bersyukur yang berbunyi, tidak akan disempurnakan hajat manusia, agar manusia itu pandai bersyukur, ehh lagi... kenapa ada kata pandai?, itu dia bedanya, ingin pandai?, maka belajarlah, artinya kita harus belajar agar pandai bersyukur, rujukan tersebut menunjukan kepada kita bahwa bersyukur itu tidak hanya sampai disitu saja, juga menjadikan kita mengerti betul apa yang disyukuri, juga agar kita dapat berhitung dengan benar untuk membedakan yang mana tidak mendapat sama sekali, mendapat sedikit, mendapat banyak, mendapat banyak sekali tetapi sedikit kurang alias tidak sempurna banyaknya atau tidaksesuai dengan yang kita harapkan, tentu saja selama kenyataannya kita mendapatkan walupun sedikit sekali, sedikit, banyak apalagi banyak sekali seharusnya kita bersyukur, bukannya kita mendapat banyak sekali tetapi kecewa karena sedikit kurang dari yang diharapkan.

 

Memang manusia itu makhluk yang mudah kecewa dan sulit bersyukur, ingin seribu dapatnya sembilan ratus lima puluh kecewa, dapat seribu tetapi orang lain dapat seribu lima ratus juga kecewa, selain itu sering juga terkena penyakit bersyukur karena kekurang beruntungan orang lain, bukannya karena mendapatkan, misalnya ingin seribu dapatnya tujuh ratus lima puluh, bersyukur karena orang lain hanya mendapat lima ratus, atau kehilangan seribu bersyukur karena orang lain kehilangan lebih banyak yaitu dua ribu, padahal seharusnya bersyukur karena mendapat tujuh ratus lima puluh dan kasihan pada orang yang hanya mendapatkan lima ratus, begitu juga seharusnya bersyukur karena hanya kehilangan seribu tidak sampai kehilangan segalanya, dan juga kasihan kepada yang kehilangan dua ribu.

 

Jadi kembali ke persoalan perbedaan tadi, jika kita pandai bersyukur maka kita dapat menjadi orang yang mensyukuri pemberian Allah, sebab orang yang mensyukuri pemberian adalah orang yang senantiasa merawat serta mensyukuri pemberian tersebut selama kita miliki, bahkan setelah tidak kita miliki lagi pun kita tetap mensyukurinya dikarenakan pernah memilikinya, itu semua dapat dilakukan bila kita bersyukur atau menyukuri pemberian ataupun pinjaman tersebuk dikarenakan yang memberikannya atau yang meminjamkannya, bukannya pemberiannya ataupun pinjamannya tersebut.

 

Sungguh beruntunglah orang yang pandai bersyukur maupun yang mensyukuri pemberian Allah, sebab Allah akan melipat gandakan segala-sesuatu yang disyukuri oleh kita, sedangkan lipat ganda sendiri bukanlah berarti di kalikan dua, tetapi sebanyak Allah berkehendak, sebagaimana jika kita memberikan baju kepada seseorang, lalu orang itu membuangnya atau memberikannya kepada orang lain, tetntu kita merasa orang tersebut tidak menghargai kita sehingga kita enggan untuk memberi lagi apapun juga kepada orang tersebut, tetapi bila orang tersebut merawat baju pemberian kita tersebut dengan baik, sering dipakai, kelihatan bagus terus, tentu saja kita ingin memberi lagi kepada orang tersebut, begitu pula dengan Allah yang akan melipat gandakan pemberiannya yang kita rawat dengan baik serta kita syukuri, semakin pandai kita merawat dan mensyukurinya maka akan semakin besarlah Allah melipat gandakannya, tetapi mengapa kita sulit bahkan tidak dapat merasakan pelipat gandaan tersebut?, itu semua disebabkan Allah melipatgandakan sesuatu yang kita syukuri dengan apa yang paling kita butuhkan pada saat itu sedang kita tidak menyadarinya, hanya Allah lah yang Maha Mengetahui yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita pada setiap saatnya.

 

Allah sangat menyayangi hambanya yang selalu mensyukuri pemberiannya, bayangkanlah bagaimana Allah melipat gandakan apa yang disyukuri hambanya, pada saat kita terbangunkan oleh Allah dari tidur kita dengan mensyukuri nikmat, afiat serta terjaganya kerahasiaan kita, maka Allah akan menambah kenikmatan, keselamatan serta mengurangi dosa-dosa kita, pada saat kita terbangun dalam nikmat di atas tikar yang kita syukuri maka Allah akan melipat gandakan tikar menjadi karpet, lalu karpet tebal, lalu kasur, lalu kasur dan ranjangnya, lalu kasur tebal dan ranjang besarnya, demikian pula dengan dinding, atap, lantai, jalan kaki dan lain sebagainya juga dalam keselamatannya serta berkurangnya dos-dosa.

 

Oleh karena itu bersungguh-sungguhlah mensyukuri, nafas, mata, hidung, telinga, lidah, tangan serta kaki kita, agar Allah menambahkan kesehatan serta usia yang panjang penuh berkah, penglihatan yang indah serta halal, menghirup wangi lagi segar, mendengar yang merdu lagi bermanfaat, rasa yang enak nikmat serta fasih, sentuhan halus serta terampil, jarak perjalanan yang cepat selamat bahkan pedal gas dan rem kendaraan.

 

Mengingat hasil dari mensyukuri adalah berlipat ganda, sedangkan hasil dari do'a adalah dikabulkan, dapatkah kita memintakan sesuatu yang belum dimiliki dengan cara mensyukurinya dan bukannya dengan cara berdo'a?, dengan berprasangka baik kepada Allah kiranya cara tersebut dapat saja dilakukan, yaitu dengan mensyukuri kasih serta sayang Allah kepada kita yang menunda pemberiannya dikarenakan ketidak siapan kita menerimanya, yang insyaAllah akan lebih disegerakan kesiapan serta kemampuan kita untuk menerimanya.

 

Orang yang senantiasa mensyukuri pemberian Allah ditambah dengan senantiasa berprasangka baik kepada Allah adalah orang yang sabar serta tawadhu, yang merupakan dua senjata paling penting bagi seorang hamba dalam menempuh perjalannya menuju kepada Penciptanya dengan selamat.

 

-=*=-